Beberapa bulan setelah memasuki tahun
ajaran 2014-2015, ada yang berbeda dari setiap sudut di kampus merah. Jika kita
menelisik lebih dalam dan lebih jauh, terjadinya restrukturisasi pada tatanan
birokrasi di kampus merah, mulai dari tingkat rektorat hinga dekanat di
fakultas. Restrukturusisai pada tatanan birokrasi kampus tersebut berdampak
pula pada pembangunan infrastruktur yang ada di kampus.
Memasuki kawasan kampus, tak jarang akan
kita temui lahan-lahan garapan para kontraktor dalam menata dan mempercantik
kampus. Setiap fakultas berbenah, mempercantik dirinya dengan berbagai jenis
pembangunan fisik yang menyejukkan mata. Setiap fakultas memperelok diri,
dengan perbaikan dan pembngunan yang hampir serentak dilakukan.
Di fakultas ekonomi terjadi
pembanguanan lahan parkir untuk mahasiswa, WC yang telah ada sebelumnya di
perindah dan kemudian pembangunan ruang-ruang Lembaga Mahasiswa (himpunan).
Himpunan di fakultas ekonomi dipericantik dengan hadirnya “pintu kaca”, hal
ini kemudian manambah kesan ekslusifan pada “rumah” lembaga mahasiswa tersebut.
Ruang LEMA yang sebelumnyat ak teratur kini mulai terlihat rapi dan bersih. Disisi
lain pembangunan tersebut terkesan seperti pembatasan yang ingin dilakukan
pihak birokrasi terhadap LEMA. Hadirnya pintu dengan ornament “kaca nya” di
analogikan sebagai poembatasan yang akan membatasi ruang-ruang gerak LEMA. Dan
lema hanya akan bergerak diwilayah “pintu kaca” tersebut. Sangat jauh dengan
apa yang menjadi tujuan dari LEMA itu sendiri.
Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) pembangunan yang dilakukan pihak
fakultas juga merambah rumah LEMA. Himpunan LEMA yang semula berada didekat ruang
perkuliahan, dipindahkan ke bangunan yang justru semakin jauh dari mahasiswa,
dengan ruangan yang lebih kecil dari sebelumnya. Hal tersebut membuat mahasiswa
yang aktiv di LEMA bereaksi keras. Pasalnya keputusan yang dilakukan adalah
keputusan sepihak dari pihak pimpinan fakultas, dan letak runag lema yang
semakin jauh dari mahasisa akan berdampak pada proses pengkaderan yang akan
dilakukan LEMA. Yang kemudian sangat ditakutakan para aktivis sospol adalah intervensi
yang dilakukan pihak fakultas terhadap lema bukan hanya akan merecokki
infrastrukturnya, namun akan merambah hingga suprastruktur dari lema itu sendiri.